Dinsos Banten Bersama Tagana Ikuti Apel Kesiapsiagaan Hadapi Dampak "La Nina"

Dinsos Banten Bersama Tagana Ikuti Apel Kesiapsiagaan Hadapi Dampak
Dinsos Banten Bersama Tagana Ikuti Apel Kesiapsiagaan Hadapi Dampak
Dinsos Banten Bersama Tagana Ikuti Apel Kesiapsiagaan Hadapi Dampak

SERANG - Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Banten bersama Taruna Siaga Bencana (Tagana) melaksanakan apel kesiapsiagaan menghadapi dampak fenomena La Nina, di halaman Kantor Dinsos Banten, KP3B, Kecamatan Curug, Kota Serang.

Apel yang dipimpin Menteri Sosial RI Ad Interim Muhadjir Effendy tersebut dilaksanakan secara virtual yang dipusatkan di Markas Kopassus Cijantung, Kamis (17/12/2020).

Apel tersebut dihadiri Kepala Seksi Perlindungan Sosial dan Korban Bencana pada Dinsos Provinsi Banten, Irma Mulyasari, serta 40 anggota Tagana perwakilan kabupaten/kota se-Banten.

Di sela kegiatan, Irma Mulyasari mengatakan, dampak fenomena La Nina sudah dirasakan Provinsi Banten, yakni dengan adanya bencana banjir di beberapa daerah seperti Kota Serang Kota Cilegon, Kabupaten Serang , Kabupaten Pandeglang, dan Lebak.

"Dan ancaman La Nina ini diperkirakan bisa sampai April 2021. Puncak musim hujan sendiri akan terjadi pada Januari dan Februari," ujar Irma.

Dengan adanya potensi bencana tersebut, Dinsos Banten dan Tagana menyatakan sudah siaga dan siap melaksanakan pelayanan sosial bagi korban bencana.

"Kami sudah siaga sejak awal, bagaimana teman-teman Tagana bisa meningkatkan semangat dan  integritasnya dalam memberikan layanan sosial khususnya bagi korban bencana," ujarnya.

Dalam tiga tahun terakhir, Banten dilanda bencana besar yakni Tsunami dan banjir bandang.

"Dan itu terjadi pada awal tahun dan akhir tahun, jadi memang itu masa rentan bencana hidrometeorologi," ungkapnya.

Irma mengatakan, secara sumber daya manusia Tagana Banten telah siap melaksanakan penanganan bencana, mulai dari shelter, dapur umum, hingga memberikan layanan dukungan psikososial bagi korban bencana.

"Secara sumber daya sudah siap tinggal bagaimana penyiapan sarana prasarana yang juga tidak kalah penting, khususnya logistik permakanan," kata Irma.

Dia mengungkapkan, dalam kurun waktu 2017-2020 Dinsos Banten menghadapi hambatan dalam penanganan korban bencana, di mana logistik yang tidal memadai.

"Kita belum punya logistik memadai untuk korban bencana, itu salah satu hambatan besar dalam pelayanan sosial korban bencana. Jadi untuk memenuhi kebtuhan dasar ini belum maksimal," kata Irma.

"Kita belum punya logistik tersendiri, masih bergantung pada distribusi dari Kemensos," tambahnya.

Namun, kata dia, pada 2021 ada harapan Dinsos Banten bisa secara mandiri menyediakan pemenuhan kebutuhan dasar bagi korban bencana. Hal itu menyusul adanya aturan Permendagri No. 90 tahun 2019.

"Dalam aturan itu sudah diberikan kewenangan bagi provinsi dam kabpaten kota untuk menyediakan kebutuhan pemenuhan sendiri," ungkapnya.

Dirinya berharap, tidak ada lagi bencana besar yang melanda Indonesia khususnya Provinsi Banten.

"Mudah-mudahan, kita berdoa agar tidak ada lagi bencana hari ini dan hari mendatang yang menimbulkan korban jiwa dan harta benda," tutupnya.