Ratusan Pesilat Banten Unjuk Kebolehan di Gelaran Budaya Kearifan Lokal

Sumber Gambar :

SERANG - Puluhan peguron atau perguruan pencak silat di Banten tumplek di Lapangan Radar Arena, Gedung Graha Pena, Ciracas, Kota Serang, Rabu (11/12/2019). Para pesilat ramai-ramai menunjukkan kebolehan jurus silatnya pada kegiatan Gelar Budaya Kearifan Lokal Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial yang diselenggarakan Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Banten.

Kegiatan tersebut diinisiasi Dinsos Banten sesuai dengan kebijakan Gubernur Banten Wahidin Halim dan Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy dalam penguatan kearifan lokal. Salah satunya untuk menangkal paham radikalisme dan terorisme.

Kegiatan tersebut disambut baik oleh Kementerian Sosial RI. Hal itu ditunjukan dengan kehadiran Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia Raden Harry Hikmat.

Turut hadir dalam acara tersebut Kepala Dinsos Banten Nurhana, Plt Sekretaris Dinsos Budi Darma, dan Kasi Perlindungan Sosial Korban Bencana Irma Mulyasari.

Dalam sambutannya, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kementerian Sosial Republik Indonesia Raden Harry Hikmat mengatakan, salah satu upaya menangkal paham radikalisme dan terorisme adalah dengan pendekatan penguatan kearifan lokal. Salah satunya adalah dengan seni pencak silat.

"Hasil studi di berberapa perguruan tinggi menyebutkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya pencak silat pada gilirannya akan bermuara pada ketangguhan mental," kata Harry.

Ia menjelaskan, ketangguhan mental itu ternyata juga berpengaruh pada motivasi untuk berprestasi.

"Pencak silat bisa mempengaruhi pengendalian diri dari pengaruh negatif. Pencak silat juga memberi energi positif. Jadi kaum milenial harus bangga. Tanpa disadari ada kekuatan, energi yang positif yang sebetulnya dibangkitkan oleh latihan pencak silat," pungkasnya.

Tak hanya itu, pencak silat juga dapat mengendalikan perilaku seseorang agar tidak melakukan perilaku buruk.

"Kita tidak berharap, punya kemampuan silat justru jadi provokator dari sebuah konflik. Atau suka menjadi tawuran. Nauzubillahiminzalik. Data BPS menyebutkan 58 kejadian pada 2018, ada perkelahian antar desa. Mudah-mudahan tidak didorong oleh kemampuan beladiri yang disalahgunakan," tukasnya.

Pada kesempatan itu, Dirjen mengajak seluruh elemen masyarakat khususnya peguron di nusantara agar terus mengembangkan seni pencak silat hingga di masa mendatang 

"Kami mendukung agar peguron tumbuh berkembang dengan sedikit bantuan dari pemerintah, baik untuk perbaikan peralatan, seragam atau yang lainnya demi kemajuan peguron," ucapnya.

Kepala Dinsos Banten Nurhana mengatakan, berbagai keragaman kearifan lokal di Banten sudah sepantasnya dapat dijadikan sebagai sebuah potensi besar untuk menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia khususnya Banten.

"Dan terpenting lagi demi untuk menangkal pengaruh anasir-anasir radikalisme dan terorisme. Dari berbagai dasar ilmu dan filosofi serta fatsun berbeda, pencak silat dapat menjadi potensi yang sangat kuat dan besar dalam menangkal radikalisme dan terorisme," kata Nurhana, didampingi Plt Dinsos Banten Budi Darma.

Ia mengatakan, Pemprov Banten mendorong tumbuhnya kearifan lokal dengan berbagai keragamannya demi menjadi potensi persatuan dan kesatuan. "Terlebih lagi dengan adanya gelar budaya kearifan lokal yang dilaksanakan Dinsos Banten hari ini. Ada 33 peguron yang semuanya ya kita satukan dalam sebuah kearian lokal," ucapnya.*


Share this Post